Wanita ini Diperkosa Anak Band, Sudah Dilaporkan Tapi Pelakunya Masih Bebas Berkeliaran


Belakangan media sosial dihebohkan oleh seorang yang diduga sebagai pelaku pemerkosaan terhadap perempuan berusia 22 tahun, kisah ini diunggah oleh akun @sesenggukkan di Twitternya.

Pada 15 September 2019 Perempuan yang tidak disebutkan namanya itu mengaku dijemput oleh seorang temannya yang kebetulan pemain band, perempuan itu dijemput di rumah kosnya kemudian mereka pergi ke kedai kopi di daerah MT Haryono, Malang.

Awalnya mereka hanya berbincang biasa hingga salah seorang teman dari meja sebelah menghampiri dan meminta bantuan si pemain band itu untuk menemaninya membeli minuman (wiski), kemudian pemain band menawari perempuan itu wiski. Ketika dalam perjalanan pulang dengan motor, perempuan itu mengaku sedang dalam kondisi mabuk dan akhirnya ia hanya menyenderkan tubuhnya sepanjang jalan. Ia menuturkan saat setengah sadar, perempuan itu bingung sebab mereka melewati belokan yang mengarah ke kosannya.

Ia pun bertanya kepada pemain band itu tetapi tidak dihiraukan, dalam kondisi setengah sadar perempuan itu mencoba untuk meminta tolong dengan menghubungi kekasihnya melalui pesan singkat. Beberapa menit perjalanan akhirnya mereka berdua tiba di daerah Cengger Ayam rumah kos si anak band tersebut.

Perempuan itu mengaku tidak ingat betul bagaimana ia tiba-tiba berada dalam kamar anak bandnya, ia hanya mengingat ketika sampai kepalanya terasa sakit dan tertidur di karpet kosan. Ketika terbangun perempuan itu langsung meraih telepon genggamnya dan mengirimkan lokasi terkini pada kekasihnya.

Setelah tindak pemerkosaan itu terjadi. Sang perempuan menyatakan telah berteriak minta tolong hingga menjerit menangis tetapi tidak ada satupun anak kos yang datang menyelamatkannya. Perempuan berusia 22 tahun itu mengaku hancur, dan putus asa hingga tiba-tiba pintu didobrak oleh kekasihnya.

Setelah satu bulan berlalu perempuan itu mengaku tidak sengaja bertemu kembali dengan anak band, tetapi ia kaget sebab tiba-tiba anak band itu menyapanya dan seperti tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka.

Akun @sesenggukkan juga menambahkan dalam twitnya korban pria itu ternyata sudah banyak. Setiap kali si pelaku sellau berdalih, “Yo aku lek mabuk dadi mblendes, purane" (Aku kalau mabuk jadi hilang kontrol, sori).


Setelah cerita ini viral, tempat kerja dari anak band itu memberikan pernyataan resmi mereka terhadap kasus ini.

Mereka menyesali tindakan yang dilakukan salah satu pegawainya itu, mereka mengaku telah memutuskan hubungan kerja dengan terduga pelaku pemerkosaan setelah ia mengakui perbuatan di hadapan manajernya. Hal ini diungkapkan pihak Management perusahaan dalam media sosialnya


Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa tak sedikit korban pemerkosaan mengalami Rape Trauma Syndrome (RTS).

RTS dapat berupa gejala-gejala psikologis, kognitif, atau juga perilaku yang umumnya mencakup dua fase: akut dan jangka panjang

Dilansir dari Kompas.com, terdapat dua fase yang dialami oleh korban pemerkosaan pasca kejadian itu, yakni fase akut dan fase jangka panjang.

Fase akut (acute phase) merupakan disorganisasi. Fase ini berlansgung sejak berakhirnya pemerkosaan sekitar 2-3 minggu setelahnya.

Semasa fase akut, korban akan mengalami reaksi emosi yang kuat hingga berakibat pada gejala-gejala psikis. Gejalan lain bersifat emosional seperti:

- Menangis, terisak

- Tertawa-tersenyum

- Sangat terkontrol-tenang

- Berperilaku datar

Sejumlah luapan emosi lainnya melingkupi kemarahan, ketakutan, serta kegelisahan.

Beberapa korban menampilkan sikap kaget dan mati rasa, tak sedikit dari mereka juga berpura-pura semua baik-baik saja.

Reaksi dari fase akut berakar dari ketakutan pada cidera fisik, mutilasi, atau kematian. Ketika korban merasa kembali aman, umumnya mereka merasakan:

- Perubahaan suasana hati

- Rasa malu

- Rasa bersalah

- Ketidakberdayaan

- Kemarahan

- Balas dendam

- Dll

Sementara itu, dalam fase jangka panjang (long-term phase) ini berlangsung usai 2-3 minggu setelah kejadian. Dalam fase ini, korban mulai menata ulang hidupnya. Fase ini dapat menjadi adaptif atau maladaptif

Reaksi pada tiap korban berbeda-beda tergantung pada:

- Usia

- Kondisi kehidupan

- Lingkungan sekitar

- Ciri kepribadian

- Dukungan orang terdekat

Korban pemerkosaan umumnya menginginkan perubahaan dalam hidupnya, seperti pergi ke tempat yang jauh, mengganti gaya rambut, nomor telepon. Namun tak sedikit dari korban pemerkosaan yang sulit untuk bekerja.