Karena Gunakan Penglaris, Usaha Pedagang Ini Malah Bangkrut


Tidak ada jalan instan untuk menuju kesuksesan!

Siapa yang tidak ingin usahanya berakhir dengan sukses. Semua orang pasti menghendaki hal seperti itu pada setiap usahanya. Namun tidak setiap orang mau merasakan pahitnya kerja keras untuk mencapai sebuah kesuksesan. Setidaknya itulah yang dialami oleh Pepeng (nama samaran).

Dilansir dari Kumparan (13/03/2020), usaha nasi gorengnya berakhir dengan sangat menyedihkan. Bagaimana tidak, warung nasi goreng yang biasanya ramai pengunjung masih saja sepi meski hampir tengah malam. Padahal dia telah membuka lapaknya sejak pukul 6 sore. Yang bisa dilakukan Pepeng hanyalah memandang ke seberang jalan.

Biasanya, menjelang tengah malam Pepeng sudah menghitung uang hasil menjajakan nasi goreng. Warungnya selalu padat pengunjung bahkan saat sedang persiapan. Padahal harga nasi goreng yang dijual Pepeng tergolong mahal.

Namun ada sebuah rahasia yang tidak banyak diketahui orang. Warung nasi goreng Pepeng bisa selalu ramai karena menggunakan jimat penglaris.


Hal ini berawal ketika Pepeng lulus dari sekolah memasak. Sejak saat itu dia ingin membuka warung nasi goreng yang telah lama diimpikannya. Terlebih lagi, Pepeng cukup percaya diri dengan keterampilan memasaknya.

Seperti kebanyakan orang, mimpinya terganjal modal yang terbatas. Uangnya hanya bisa untuk membeli gerobak, peralatan masak, peralatan makan, dan bahan baku. Itu pun hanya bahan yang berkualitas rendah.

Minta modal pada orangtua juga bukan pilihan yang baik, mengingat mereka hanya petani penggarap lahan orang. Meminjam pada lintah darat juga sangat berisiko memunculkan masalah baru di kemudian hari.

Hingga pada suatu ketika Pepeng membaca artikel di sebuah majalah. Sampul majalah tersebut terlihat paling mencolok karena terdapat gambar sosok berwarna hitam seperti bayangan serta memiliki perawakan tinggi dan besar.

Hal yang membuat Pepeng tertarik untuk membukanya adalah sebuah rubrik pesugihan yang membahas “Pendatang Rezeki Rumah Makan”.

Berbekal dari informasi tersebut, akhirnya Pepeng menemui seorang dukun. Dukun tersebut bernama Eko Abdi Wijaya, tapi ia memperkenalkan diri kepada Pepeng sebagai mbah Jaya.

Selain memperkenalkan diri, mbah Jaya juga bercerita tentang riwayat hidupnya, tentang bagaimana dia bisa mendapatkan ilmu hitam yang dapat mendatangkan rezeki rumah makan.

Meski begitu, Pepeng tidak begitu peduli. Yang dia inginkan adalah tentang pesugihan yang dijelaskan mbah Jaya dalam wawancara dengan majalah yang ia baca.

“Pesugihan ini tidaklah sulit, kamu hanya perlu memberikan uang kepada saya hari ini sebagai mahar, serta menyiapkan jamuan untuk sang penolong setiap hari,” ujar mbah Jaya.

Pepeng sudah menyadari bahwa yang dimaksud sang penolong oleh mbah Jaya bukanlah seorang manusia. Namun demi mewujudkan mimpinya untuk memiliki warung nasi goreng, Pepeng rela membayar uang mahar pada mbah Jaya dan mempersembahkan sesaji untuk sang penolong tersebut.

“Kalau kamu bersedia, berarti kamu juga sudah harus siap menjaga ini. Taruh di gerobak setiap kali kamu berjualan, dijamin kamu akan untung banyak,” kata mbah Jaya.

Mbah Jaya pun memberikan jimat berupa kantung kecil berwarna hitam yang diikat dengan tali putih. Saat menerimanya, Pepeng merasa penasaran dengan apa yang ada di dalam kantung tersebut.

“Di dalamnya hanya kertas, tapi sudah kuberi bacaan agar kertas tersebut mendatangkan pelanggan, hanya saja kamu harus ingat tentang syarat-syarat yang sudah kusebutkan tadi, kalau tidak, kamu bisa celaka,” ujar mbah Jaya.

“Baik, mbah,” jawab Pepeng dengan antusias.

Benar saja, jimat yang Pepeng taruh di dalam gerobak menunjukkan kesaktiannya. Di hari pertama berjualan, sudah banyak orang yang memanggilnya untuk membeli nasi goreng yang dia jajakan.

Hasil yang nyata itu semakin membuat Pepeng semangat. Dia semakin rajin membuat sesaji dan memperluas rute berjualannya.

Saking larisnya nasi goreng yang ia jajakan, akhirnya Pepeng mampu membuka warung yang dia impikan. Bahkan ia sampai bisa mempekerjakan tiga orang karyawan. Masing-masing bertugas untuk mencuci peralatan masak dan makan, satu sebagai kasir, dan satu lainnya membantunya memasak.

Kesuksesan warung nasi gorengnya membuat Pepeng semakin sibuk dan lupa dengan syarat yang harus dia penuhi setiap hari. Dia hampir tidak pernah lagi memberika sesaji pada sosok penolong yang dimaksud oleh mbah Jaya.

Akibat kelalaiannya itu, warung tenda nasi gorengnya perlahan-lahan menjadi sepi. Yang sebelumnya dia bisa menjual puluhan porsi nasi goreng dalam satu malam, semakin ke sini dia hanya mampu menjual belasan porsi saja.

Pepeng kemudian kembali teringat dengan persyaratan yang harus dipenuhi. Kemudian dia kembali membuat sesaji untuk sang penolong, namun hal itu tidak bekerja. Bahkan ia semakin merugi sampai harus memberhentikan tiga karyawannya.

Sesampainya di rumah, Pepeng langsung tertidur karena merasa lelah dan stres. Dalam mimpi, ia mendapati kaki dan tangannya diikat di sebuah ruangan.

Ia tidak sendiri di ruangan tersebut, melainkan bersama sosok makhluk tinggi, besar dan berwarna hitam yang persis seperti di sampul majalah yang ia lihat.

Pepeng kemudian mencoba untuk meminta petunjuk kepada mbah Jaya. Namun ketika sampai di rumah sang dukun. Ternyata rumah tersebut telah dikelilingi garis polisi. Dia tidak bisa menemukan solusi untuk mengatasi amarah dari sang penolong.

Lalu yang bisa dia lakukan hanyalah menunggui warung tendanya yang semakin sepi pengunjung. Dia hanya bisa melamun memikirkan usahanya yang nyaris gulung tikar. Di tengah lamunannya dia memandang ke seberang jalan.

Di seberang jalan itulah ada sosok makhluk yang memperhatikanya. Makhluk itu persis seperti yang Pepeng lihat di dalam mimpi, dan di sampul majalah tempat ia menemukan cara pesugihan.