Wow !!! Hal Inilah yang akan Membuat Orang Indonesia Kaya di Masa Depan...

Jumlah manusia di muka bumi semakin banyak, sudah melewati 7,5 miliar, sehingga jumlah makanan yang tersedia juga harus semakin banyak. Padahal lahan pertanian untuk menghasilkan tanaman pangan makin sempit karena diekspansi untuk kebutuhan tempat tinggal manusia. Lalu, musti makan apa manusia di masa depan?

Jawabannya adalah alga dan Indonesia adalah negara yang memiliki biodiversitas mikroalga terbesar di dunia. Ini kisah para peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) meneliti alga untuk pangan manusia, ternak, obat, dan energi.


Pakar Kultur Jaringan Tanaman dan Mikroalga Fakultas Biologi UGM, Eko Agus Suyono, mengatakan kecenderungan kebutuhan makanan ke depan tak cuma harus banyak, namun harus nutrisius (cukup nutrisi). Sebab manusia menghadapi dua ancaman serius yang sifatnya bertolak belakang, yakni obesitas yang dialami penduduk negara maju, dan stunting yang diidap penduduk negara-negara terbelakang.

Obesitas dan stunting berhubungan erat dengan kecukupan gizi seseorang; obesitas mengonsumsi makanan dalam jumlah banyak namun kandungan gizinya kurang, sedangkan stunting kurang makan kurang gizi juga. Untuk mengatasi masalah itu, selain bahan makanan yang nutrisius, kita juga butuh organisme yang tumbuhnya tidak membutuhkan waktu lama, dapat dipanen lebih cepat sehingga mampu mengatasi masalah perut manusia.

Sayangnya, manusia kelewat bergantung pada organisme yang pertumbuhannya relatif lama sebagai makanan pokoknya seperti padi, gandum, jagung, atau sagu. Menurut Eko, manusia perlu sebuah terobosan, bagaimana menghasilkan makanan lebih cepat panen namun dengan kandungan nutrisi yang lebih tinggi. Alga adalah salah satu pilihan yang saat ini sedang gencar diteliti oleh ilmuwan pangan seluruh dunia.

“Kita juga butuh organisme yang cara budidayanya tidak terlalu rumit karena alga banyak diteliti sebagai pilihan solusi pangan masa depan manusia, “ kata Eko ketika ditemui di Fakultas Biologi UGM, pekan terakhir tahun lalu.

Alga, terutama jenis mikroalga sangat potensial, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia, tapi juga mengatasi permasalahan obesitas dan stunting. Pemanfaatannya tak harus menjadi bahan pangan pokok tunggal, karena tingginya kandungan nutrisi, alga cukup menjadi tambahan atau campuran makanan pokok.

“Contohnya nasi bisa dicampur mikroalga, atau jagung ditambah mikroalga, atau roti dicampur dengan alga. Sehingga dengan jumlah yang sedikit tapi nutrisinya sudah bisa mencukupi,” lanjutnya.

Miliki Biodiversitas Mikroalga Terbesar di Dunia


Selama ini, perhatian soal pemanfaatan alga sebagai bahan pangan di negara-negara maju sudah mulai gencar, namun sayang di Indonesia masih sangat kurang.

“Tapi bahwa semangat untuk menuju ke sana ada, penelitian untuk itu ada, terus policy juga saya kira ada dari pemerintah ya,” kata Eko.

Sebagai negara yang beriklim tropis dan 70 persen bagiannya adalah daerah perairan, Indonesia memiliki biodiversitas mikroalga terbesar di dunia. Hanya saja, potensi itu belum dimanfaatkan secara optimal. Bahkan, mikroalga yang kerap memenuhi permukaan air sampai berwarna hijau sering dipandang sebagai organisme yang menjijikan.

Menurut Eko, mikroalga di perairan berperan sangat baik dalam menyerap zat logam berat maupun limbah lainnya. Misalnya ketika ada nitrogen dari pupuk petani yang masuk ke badan air, mikroalga akan menyerap zat-zat pencemar itu. Namun, keadaan itu bisa membuat populasi mikroalga meledak, dalam konteks keseimbangan ekosistem hal ini sangat tidak menguntungkan.

“Ikan-ikan menjadi terganggu karena oksigennya berkurang. Atau mikroalga itu masuk ke insang ikan, stuck di insangnya sehingga ikannya mati,” ujarnya.

Namun ketika keadaan itu ditarik ke konteks ilmu pengetahuan dan budidaya, ceritanya akan berbeda lagi, justru peledakan populasi itulah yang dicari. Di dunia ini, kata Eko ada sekitar 30 ribu jenis alga yang telah teridentifikasi. Namun, di luar jumlah itu, dia yakin jumlah alga yang belum teridentifikasi masih sangat banyak, bahkan kemungkinan mencapai jutaan jenis.

Dari sekian banyak jenis itu, ada beberapa jenis alga dengan kandungan nutrisi yang sangat tinggi. Misalnya Chlorella zofingiensis dan Haematococcus pluvialis, yang mana kedua jenis mikroalga itu mengandung astaxanthin yang sangat tinggi.

“Astaxanthin ini adalah antioksidan yang terkuat yang selama ini ditemukan. Itu lebih kuat 500 kali kira-kira daripada beta karoten yang ada pada wortel, tomat, dan sebagainya,” lanjut Eko.

Artinya, untuk mendapatkan astaxanthin dengan jumlah yang sama, kita hanya perlu mikroalga 500 kali lebih sedikit ketimbang bahan umum seperti wortel atau tomat. Pertumbuhan mikroalga juga lebih cepat, mikroalga dapat dipanen saat usianya baru tujuh hari, bandingkan dengan tomat dan wortel yang baru bisa dipanen setelah usianya sekitar tiga bulan.

“Bahkan bisa kurang dari tujuh hari, empat hari sudah bisa panen. Dalam waktu jauh lebih singkat bisa menghasilkan lebih tinggi daripada wortel sama tomat, itu sangat menarik sebenarnya,” tegasnya.

Alga cenderung mudah hidup di mana saja selama ada air, bisa di rawa, sungai, danau, perairan payau, laut, bahkan di kolam-kolam buatan. Kolam untuk budidaya alga juga tak perlu desain khusus, cukup kolam yang dilapisi dengan plastik. Bukan tidak mungkin, alga akan menjadi makanan pokok manusia, atau minimal sebagai campuran makanan pokok untuk masa depan.

“Karena komposisinya itu sudah gabungan antara sayur dengan ada seratnya, juga dia kaya dengan omega yang biasa didapat dari ikan. Dengan hanya menanam mikroalga kita sudah dapat nutrisi yang diambil dari hewan dan sayur,” kata Eko.

Food, Feed, Biofuel, Pharmacy


Mikroalga tak sekadar bisa dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Mikroalga juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak (feed), suplemen atau obat-obatan untuk kebutuhan farmasi, bahkan bisa dijadikan alternatif bahan bakar nabati (biofuel).

Slamet Widiyanto, Pakar Fisiologi Hewan dari Fakultas Biologi UGM, juga tengah meneliti manfaat mikrolaga untuk dunia kesehatan. Slamet baru saja meneliti mikroalga sebagai neuroproteksi ekstrak untuk menangani kerusakan sistem saraf yang berhubungan dengan mekanisme pengendalian diabetik.

“Ini baru kita ujikan di hewan dulu, dan Alhamdulillah ini bagus hasilnya. Ternyata yang tidak kita duga mikroalga itu potensinya luar biasa,” kata Slamet.

Slamet menganalisis bagaimana profile bio content di dalam mikroalga, dan ternyata content yang bisa berfungsi sebagai obat luar biasa. Salah satu yang diuji oleh Slamet adalah sebagai anti-diabetik.

“Termasuk juga hiperkolesterol, hipergikenik, sudah kita ujikan ternyata hasilnya signifikan. Jadi berpotensi sekali sebagai obat untuk mengurangi kolesterol, mencegah diabetes militus,” lanjutnya.

Tidak hanya sebagai bahan obat, Slamet juga meneliti mikroalga sebagai pakan ternak puyuh untuk menghasilkan telur yang lebih berkualitas. Hasil penelitiannya menunjukkan, kandungan Omega 3, 6, dan 9 pada telur puyuh naik setelah diberi makan mikroalga. Telur puyuh yang diberi pakan mikroalga juga mengandung kolesterol yang lebih rendah ketimbang yang diberi pakan biasa.

“Jadi kalau di telur itu kan ada grade, itu dia grade-nya satu, yang paling baik. Itu bagus kalau mau digunakan untuk skala industri,” tegas Slamet.

Bambang Retnoaji, Pakar Perkembangan dan Reproduksi Hewan Fakultas Biologi UGM, sudah sejak 2014 silam meneliti mikroalga sebagai pakan ikan. Dia mengujikan mikroalga sebagai pakan ikan wader dan sidat.

Ketika dibandingkan dengan penggunaan pakan komersil biasa, mikroalga ternyata dapat meningkatkan reproduksi dan pertumbuhan pada ikan. Ikan yang diberi pakan mikroalga juga memiliki ketahanan terhadap stress yang lebih kuat.

“Ternyata pakan alga itu memiliki potensi untuk jauh lebih perform dibandingkan dengan pakan komersil biasa. Secara ekonomi, biayanya juga lebih terjangkau karena kami menggunakan alga yang sudah diambil untuk bahan bakar, jadi tinggal residu. Tapi proteinnya ternyata masih tinggi dan performanya tidak berkurang,” ujar Slamet.

Tak sampai di situ, sebagai bahan pangan manusia, Mulyati, Pakar Endokrinologi dari Fakultas Biologi UGM, tengah meneliti alga sebagai makanan manusia. Mulyati meneliti kadar nutrien yang terkandung di dalam alga, harapannya ketika nutrien yang terkandung bagus dia berencana menjadikan alga menjadi tepung untuk dikonsumsi manusia.

Rencananya, tepung ini bukan dijadikan sebagai bahan utama, melainkan sebagai suplemen untuk meningkatkan nutrisi makanan. Namun karena akan dijadikan makanan manusia, pengujian keamanan yang dilakukan lebih ketat.

“Jadi kita uji zat cemarannya, kayak Hg, merkuri, kadmium, dan semuanya kami ukur,” kata Mulyati.

Hasil pengujiannya menunjukkan ada salah satu zat, yakni cadmium yang terkandung masih terlalu tinggi. Agar bisa dikonsumsi manusia, Mulyati kini tengah mencari metode bagaimana untuk mengurangi kandungan kadmium di dalam alga yang dia teliti.

“Tapi over all hasilnya bagus,” tegasnya.

Eko Agus Suyono juga tengah mengembangkan alga menjadi biskuit bernutrisi tinggi untuk korban bencana. Selain itu, dia juga tengah mengembangkan budidaya alga yang diintegrasikan dengan dunia industri.

Konsepnya, zat pencemar seperti karbon dioksida yang dihasilkan oleh industri akan dimasukkan ke dalam air untuk diserap oleh alga. Tak hanya menyerap karbon dioksida yang merugikan lingkungan, nantinya alga juga akan menghasilkan oksigen.

“Itu sedang saya kembangkan itu, menyerap CO2 dengan mikroalga. Kami kerja sama dengan beberapa perusahaan untuk menyerap CO2 dari industri itu,” jelas Eko.

Potensi lain yang tidak boleh dikesampingkan kata Eko adalah alga sebagai bahan bakar nabati (biofuel). Alga bisa dikembangkan untuk berbagai produk bahan bakar seperti ethanol, bio diesel, green diesel, bio hidrogen, dan masih banyak lagi.

“Kalau potensinya, Indonesia adalah hotspot biodiversity mikroalga terbesar di dunia. Dengan alga, Indonesia, insyaallah, akan jadi negara kaya raya di masa depan,” tegas Eko.