Realita Kehidupan Para PSK di Korea Selatan, Sangat Berbeda Dengan Negara Lain!


Kita semua bekerja demi mendapatkan uang untuk menjalani kehidupan kita sendiri maupun keluarga. Tidak mengenal seberat apa pekerjaannya dan yang jelas melelahkan juga akan kita terjang demi menempuh hidup. Tidak heran banyak sekali orang yang rela bekerja di sawah panas-panasan atau kerja di kantor berjam-jam demi mendapatkan upah untuk melanjutkan keberlangsungan hidup, tidak sedikit juga orang yang melakukan pekerjaan haram atau kotor karena mendapatkan bayaran yang besar seperti contohnya menjadi pekerja seks komersial atau PSK.

Di setiap negara, dunia esek-esek memang tidak pernah lepas dari sorotan kita. Ada yang terbuka juga ada yang menjadikan ini sebagai bisnis tertutup, kita ambil contoh di Korea Selatan. Layanan esek-esek ditawarkan secara terbuka di rumah bordil, panti pijat maupun bilik salon seperti, Miari, salah satu red light district terbesar di Seoul.

Hal inilah yang mendorong sang sutradara yang bernama Jason Y. Lee dan saudaranya produser Edward Lee, mewawancarai wanita muda yang memberikan sekilas bayangan perdagangan seks Korea Selatan dalam film dokumenternya "Save My Seoul".


Dari laman nextshark.com, mereka mengatakan kalau mereka bertemu dengan Chrystal dan Esther dimana 2 wanita tersebut bekerja sebagai pekerja seks yang mengungkapkan beberapa hal tentang pekerjaan mereka. Berkat hidden camera dan akses dari sang mucikari, pria hidung belang dan pekerja, para kru film tersebut mengeksplorasi perdagangan seks di Seoul.

Penasaran seperti apa sesi tanya jawab dari wawancara itu? Yuk kita simak pertanyaan dan jawaban setelah melakukan wawancara dengan mereka!


Q: "Banyak wanita yang bekerja disini memiliki masa kecil yang suram, apa mungkin hal itu yang mendorong mereka masuk ke dalam dunia prostitusi?"

A: "Ada banyak remaja yang pergi dari rumah mereka setiap tahunnya dan ini prostitusi membuka peluang bekerja yang bahkan sangat besar. Banyak sekali orang diluar sana mengira mereka menjadi pekerja seks karena ingin punya banyak uang, padahal wanita-wanita di sini tidaklah seperti itu. Kalau mereka punya pilihan yang lain, mereka tidak akan melakukannya".


Saat kru berada di Miari, mereka setidaknya telah mengunjungi 15 hingga 20 rumah bordil dan setiap rumahnya berisi lima hingga puluhan perempuan didalam. Kalau dijumlahkan, mereka melihat setidaknya ada ratusan perempuan dan ini merupakan sebuah fakta yang cukup memilukan. Dari film ini juga mereka menyebutkan kalau pekerja seks tidak ingin menjalin hubungan asmara secara resmi karena sulit untuk mempercayai pria.


Tidak hanya psk perempuan saja kok, psk pria juga ada yang biasa kita sebut sebagai gigolo. Tak hanya itu saja, beberapa di antara mereka juga ada yang masih dibawah umur dan ada juga yang sudah diatas 60 tahun masih melakukan pekerjaan ini.

Ingin lebih lengkap langsung saja dilihat cuplikan dari film dokumenter yang satu ini ya!